Sebuah Keajaiban dari Kelas yang Paling Bising

Catatan Wali Kelas - Tiga tahun terakhir, aku rutin menuliskan cerita tentang murid-muridku, tentang betapa sedihnya ketika melihat beberapa diantara mereka yang tidak bisa melanjutkan sekolah, buku alumni pertama yang berhasil ku buat,  dan beberapa momen menjelang kelulusan. Tulisan kali ini mungkin akan berbeda dari sebelumnya, bukan karena pilih kasih, tapi memang setiap angkatan unik dengan karakternya masing-masing.

Sudah lima tahun diberikan amanah sebagai wali kelas 9, tentu ada suka dan duka. Kelas 9 yang sekarang bisa dibilang angkatan yang paling berisik sejauh ini. Saking cerewetnya, tidak terhitung berapa kali aku mendengar keluhan guru lain setelah keluar dari kelas mereka. 

Jujur saja, mengajar mereka ini sungguh menantang. Sering kali, saat aku sibuk menjelaskan di depan, mereka asyik dengan dunia obrolan mereka sendiri. Lucunya, begitu diminta gantian menjelaskan/presentasi di depan kelas, mereka mendadak bisu seribu bahasa. Padahal kalau mereka mau serius sebentar saja, aku bisa melihat potensi besar yang tersembunyi di balik tawa receh dan sikap konyol mereka.  

Bagaimana dengan keaktifan mereka di kelas? Wahh, jangan ditanya. Mereka sangat aktif, tentu saja aktifnya dalam tanda "kutip" :P. Aktifnya mereka ini pisau bermata dua, bisa jadi senjata yang mematikan atau justru menyelamatkan guru. Salah pilih metode akan membuat guru kewalahan. Sebaliknya, jika bisa diarahkan dengan tepat, keaktifan mereka ini justru menjadi kunci pembelajaran yang hidup dan berwarna.

Bagian yang paling menguras energi adalah ketika mereka tidak mudah mengiyakan instruksi. Selalu ada saja argumen atau respon yang ngeyel di awal. Padahal ujung-ujungnya? Mereka manut juga. Tebakanku sih, mereka memang hobi menguji batas kesabaran guru-gurunya :D

Lantas, adakah momen yang paling membekas? 

Aku teringat saat observasi penilaian kinerja. Saat itu adalah tahun pertama mereka menjadin murid SMP, bertepatan dengan tahun pertama pelaksanaan pengelolaan kinerja melalui PMM. Jadwal observasiku jatuh di kelas mereka. Dengan segala persiapan administrasi dan media pembelajaran yang matang, aku berdiri di depan kelas dipantau langsung oleh Kepala Sekolah dan Pengawas. 

Hari itu, suasana kelas mendadak sunyi senyap. Sangat tertib. Di luar prediksi, mereka yang biasanya ajaib tiba-tiba berubah menjadi murid paling kalem se-kabupaten.. Apakah aku senang? Tentu Tidak!!! 

Aku sudah menyesuaikan alur pembelajaran sesuai karakter mereka yang aktif, namun suasana yang sangat hening ini malah membuat rencana yang ku bangun terasa hambar dan aneh. Benar saja, pengawas menilai mereka terlalu pasif meski tugas kelompok tetap selesai. 

Selesai penilaian, karena penasaran, aku bertanya pada mereka "Kenapa kalian tidak seperti biasanya?" Jawabannya langsung ngena ke hati "Supaya nilai ibu bagus"

Aku sempat terdiam. Di balik segala tingkah ajaib yang sering bikin darah tinggi, ternyata mereka punya cara sendiri untuk peduli. Aku sampaikan ke mereka bahwa aku sangat menghargai niat itu, tapi aku lebih suka melihat mereka menjadi diri sendiri, tetap aktif selama tidak mengganggu pelajaran dan mereka bisa menyelesaikan tugas. 

Sejak hari itu, aku selalu bisa memaklumi sikap mereka. Di balik perilaku yang kadang menyebalkan dan menguras emosi, mereka hanyalah anak-anak dengan hati yang hangat. 

Kini, waktu bersama mereka perlahan mulai menipis. Sebentar lagi, kursi-kursi di kelas itu akan kosong, menyisakan gema tawa dan protes-protes kecil yang dulu sempat membuatku mengelus dada. Aku sada, mengajar bukan  hanya soal mentrasnfer ilmu, tapi soal membaca apa yang ada di balik kata-kata mereka.

Terima kasih, kelas 9 ku. Terima kasih sudah mengajari ku bahwa kasih sayang tidak selalu datang dalam bentuk kepatuhan yang kaku, tapi kadang hadir lewat cerewetnya obrolan dan keinginan sederhana untuk melihat gurunya tersenyum saat dinilai. Sukses untuk pejalanan kalian selanjutnya, ya!




Post a Comment

0 Comments