Tempat Pulang - Selama ini, aku hidup dalam definisi yang barangkali terlalu sederhana mengenai kenyamanan. Aku sempat merasa cukup hanya dengan melakoni apa yang menjadi tugasku saat ini, dengan segala rutinitas yang sedang ku jalani, sebuah perulangan aman, dan sebuah peran yang sudah hafal ku mainkan di luar kepala. Setiap pagi dimulai dengan aroma yang sama, siang yang diisi dengan tugas-tugas yang terprediksi, dan malam yang ditutup dengan helaan napas lega karena satu hari telah berhasil ku lewati tanpa drama. Malah seringkali malam hari terlewati begitu saja, berjalan tanpa terasa dan begitu cepat tiba-tiba sudah berganti hari, bulan, bahkan tahun.
Namun, di sela-sela rutinitas yang tampak sempurna itu, seringkali muncul sebuah celah. Ada jenis kebosanan yang merayap masuk tanpa permisi, terasa kosong dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ini semacam kerinduan pada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang mendefinisikan 'aku' dari persepektif yang lain, lebih daripada sekedar peran-peran sosial yang ku pakai setiap hari.
Maka, sebagai bentuk pemberontakan kecil terhadap rutinitas yang terlalu monoton ini, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ku coba sebelumnya, menulis di luar topik yang biasa ku selami. Awal tahun ini, ku biarkan jemariku menari di atas tema-tema baru yang lebih berani dan barangkali tulisan-tulisan ini bisa sedikit menghibur bagi mereka yang merasa cocok dan berada pada situasi yang sama.
Ternyata, menyelami dunia tulisan yang berbeda ini bukan sekedar literasi yang dapat mengusir jenuh, melainkan cara untuk menemukan kembali detak jantung yang selama ini tertutup rutinitas. Keberanian kecil ini pun membuahkan sebuah hadiah manis yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Salah satu fragmen tulisan yang berjudul Kepulangan yang Tak Bertuan itu akhirnya menemukan rumahnya sendiri, terangkum indah dalam sebuah antologi berjudul "Tempat Pulang".
Ini adalah sebuah ironi yang indah, di saat aku merasa asing dengan hal baru ini, aku justru menemukan sebuah 'Tempat Pulang' dalam bentuk karya. Ternyata, sejauh apapun aku mencoba keluar dari zona nyaman, tulisan akan selalu menjadi tempat di mana aku benar-benar di terima.
Terima kasih kepada Media Mahir Nulis yang telah memberikan kesempatan untuk ku mempublikasikan tulisan tersebut. Terima kasih juga kepada teman-teman ku yang dengan setia mendukung dan mau memeluk naskah ini secara fisik. Perjalanan naskah ini terasa lebih ringan karena ada mereka yang menunggunya di ujung jalan. Semoga dengan membaca tulisan-tulisan dalam buku ini bisa membawa mereka kembali pulang.
._ Salam hangat, gitudehkirakira



0 Comments