Gado-Gado Logika dan Seni Menghadapi Debat Kusir

Belakangan ini aku lagi hobi nulis, jadi kalau nemu pengalaman unik bawaannya pengen nulis aja. So, aku tulis disini sebagai pengingat juga ya untuk kita semua 

Pernah kah kalian lagi scrolling tenang, terus menemukan suatu postingan di sosmed yang rasanya greget kalau gak dikomentari? Jujur, aku ini bukan orang yang hobi debat kusir, apalagi di sosial media. Tapi kemarin, ada satu unggahan tentang program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang bikin jari-jari ku gatal.

Bukan apa-apa, aku hanya ingin menyuarakan apa yang aku lihat di lapangan, fakta ekonomi mikro yang sering luput dari kacamata besar pemerintah. Dua poin penting yang aku komentari adalah fokus pada ekonomi mikro bagaimana manfaat dari program ini kembali ke rakyat secara luas, bukan terkonsentrasi di tangan segelintir investor besar saja. Aku juga menyampaikan bagaimana dinamika di lapangan mengenai porsinya yang tidak sesuai. Bahkan, menu yang kurang dinikmati sering kali menjadi sampah makanan baru di sekolah.

Sayang sekali, diskusinya gak fokus kesana. Awalnya sih masih oke, katanya "tengkulak juga beli dari petani". Tapi lama-lama argumennya melebar kemana-mana. Inilah fenomena yang ku sebut 'Gado-Gado Logika'. Bukannya bahas solusi biar UMKM kecil bisa ikutan, lawan diskusi ku malah menarik diskusinya jauh banget sampai ke luar angkasa. 

Aku pun penasaran dan mulai mengamati pola serangan yang dia berikan. Ternyata itu ada istilah-istilah menarik lho. Yang pertama adalah jurus Moving the Goalposts. Istilah ini bisa diibaratkan kita lagi main bola, pas mau nendang bola ke gawang, eh gawangnya dipindahkan. Saat aku membahas kualitas makanan dan akses modal, dia memindahkan fokusnya ke efisiensi APBN dan korupsi di masa lalu. 

Selanjutnya, argumennya benar-benar di luar prediksi BMKG, katanya "Nabi aja berdagang cari untung". Dia menggunakan tokoh suci untuk membenarkan argumennya, yang dalam Logical Fallacy disebut Appeal to Authority. Seolah-olah kalau sudah bawa nama besar, argumen dia otomatis benar dan tidak boleh di debat. Padahal gak semua konteks dapat disamakan begitu saja.

Tidak berhenti disitu, dia juga bikin musuh palsu (si pembenci pengusaha), seolah-olah aku membenci pengusaha. Padahal gak ada satu kata pun dari komentar ku yang menunjukkan aku membenci pengusaha. Ini teknik klasik yang membuat argumenku terlihat buruk padahal cuma pelintiran doank. Ternyata pola ini namanya Strawman Fallacy, merupakan teknik kesesatan berpikir dengan cara memelintir, melebih-lebihkan, atau memalsukan argumen lawan agar terlihat lemah. 

Puncaknya adalah pada serangan pribadi atau biasa disebut Ad Hominem.  Mungkin karena kehabisan logika, dia akhirnya mengeluarkan jurus pamungkas, menyerang pribadi dengan membuat analogi pengamat renang dan pembenci pengusaha. Katanya, "Mungkin pengamat-pengamat ini banyak mengamati ekonomi mikro tapi BUKAN PELAKU. Mirip dengan pengamat renang tapi belum tentu bisa berenang".  

Menarik ya? Akhirnya, aku menutup komentar tanpa harus ikut-ikutan emosi atau balik menyerang pribadi. Dari sini aku belajar satu hal, gak semua orang siap buat diskusi substansi. Banyak yang hanya ingin menang, bukan ingin benar.

Jadi, kalau kalian ketemu tipe yang argumennya mulai gado-gado dan menyerang personal, sebaiknya berikan senyum terbaik, tutup dengan elegan, kemudian tinggalkan. Biarkan dia kenyang dengan gado-gado logikanya sendiri. Energi kita terlalu mahal untuk meladeni ego yang gak mau kalah.


Post a Comment

2 Comments

  1. Lanjut menyuarakan kebenaran, jangan gentar karena segelintir komen yg kontra apalagi yang tidak sesuai jalur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yesss, setuju. Kebenaran jangan disembunyikan. Tapi jangan biarkan energi terkuras karena meladeni logika gado-gado hehe

      Delete