Beberapa bulan terakhir, kesehatan Ibu semakin menurun. Di saat seperti ini, aku baru benar-benar menyadari bahwa usia 65 tahun ternyata bukan lagi usia muda. Ada kerentaan yang perlahan datang, ada hal-hal yang mulai berubah, dan ada kecemasan yang diam-diam tumbuh setiap kali melihat kondisi Ibu.
Ingatan tentang Bapak pun kembali muncul. Bahkan, Bapak lebih dulu merasakan kerentaan itu, 18 tahun lebih cepat, ketika Bapak jatuh sakit.
Kalau dipikir-pikir, ada banyak kenangan yang sebenarnya tidak ingin kusimpan sendiri. Ada cerita-cerita kecil yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tetapi punya tempat tersendiri dalam ingatanku. Sebelum lupa dan hilang ditelan waktu, rasanya lebih baik kutuliskan saja. Barangkali ini juga caraku mengenang diriku yang dulu.
Bagaimana aku dulu?
Entahlah. Ingatanku tidak terlalu bagus. Mungkin memang manusia ini tidak pandai mendeskripsikan dirinya sendiri. Malu mungkin, haha.
Tapi ada satu percakapan yang masih kuingat. Waktu itu Bapak masih sehat, sementara aku masih terlalu kecil untuk memahami banyak hal tentang kehidupan.
Aku ingat rengekan-rengekan kecil ketika meminta uang kepada Bapak. Biasanya beliau menjawab, "Minta sama Ibu. Gaji Bapak semuanya dikasih ke Ibu." Padahal, waktu itu katanya Bapak baru saja menyuntik pasien. Ya, pikirku, berarti dapat bayaran, dong?
Memang sih, sapi, kerbau, atau kuda, mana punya uang? Atau mungkin memang tidak ada bayaran untuk setiap cc obat atau vitamin yang disuntikkan pada ternak-ternak itu. Entahlah. Yang jelas, saat itu aku punya kesimpulan sendiri, profesi dokter hewan sepertinya tidak akan bisa membuatku kaya.
Sampai suatu hari Bapak berkata, "Nanti kalau besar kamu jadi dokter hewan ya, Nduk"
Aku masih ingat jawabanku.
"Ndak ah, jadi dokter hewan ndak punya uang." Haha. Skak mat buat Bapak!
Waktu itu beliau hanya tertawa.
Di kesempatan lain, aku pernah bertanya, "Kenapa Bapak ndak buka praktik aja? Kan nanti bisa jadi kaya."
Jawabannya justru di luar logikaku saat itu. "Kasihan pasien-pasien Bapak nanti. Kalau buka praktik, mereka malu datang, dikira harus bayar mahal."
Wah, kupikir Bapakku sudah cukup kaya waktu itu. Sampai-sampai tidak terlalu memikirkan uang dari pasien-pasiennya.
Beberapa kali, ketika bercerita tentang pasien-pasiennya, Bapak juga mengatakan bahwa beliau tidak boleh melanggar sumpah profesi.
Dulu aku hanya mendengar kalimat itu tanpa benar-benar memahaminya. Sekarang, setelah lebih dewasa, aku tahu bahwa itulah yang disebut integritas.
Idealisme yang dulu tidak kupahami
Setelah Bapak sakit, sejujurnya aku sempat sangat membenci sifat idealisnya ketika masih sehat.
Aku bahkan pernah berpikir bahwa Bapak terlalu naif. Cara hidupnya terasa agak bertolak belakang dengan sifatku kala itu yang cukup apatis. Ada banyak hal yang dulu kupikir seharusnya bisa dilakukan dengan cara berbeda, terutama ketika melihat bagaimana hidup berjalan dan bagaimana kebutuhan keluarga harus dipenuhi.
Namun, waktu perlahan membuatku memahami sesuatu.
Ada suatu titik ketika aku mulai mengerti pola pikir Bapak. Bukan berarti aku langsung menjadi orang yang sama idealisnya, tetapi setidaknya aku mulai memahami alasan di balik pilihan-pilihan hidupnya.
Setelah menjadi guru, empatiku semakin besar. Aku mulai memahami bahwa tidak semua hal harus selalu diukur dengan uang. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain melalui profesi yang kita jalani.
Ada kebahagiaan ketika bisa membantu murid memahami sesuatu yang sebelumnya terasa sulit. Ada rasa lega ketika bisa menyelesaikan persoalan kecil yang mungkin bagi orang lain tidak terlalu berarti. Ada kebanggaan tersendiri ketika melihat sesuatu yang kita kerjakan ternyata memberi manfaat.
Tentu saja, bukan berarti semua pekerjaan harus dilakukan tanpa bayaran, ya. Aku masih sangat suka uang Hehe.
Maksudku, ketika melakukan sesuatu di luar jam kerja, sampai harus mengorbankan waktu, pikiran, bahkan biaya pribadi, terkadang ada kepuasan lain yang tidak bisa dihitung dengan nominal uang dan tidak selalu harus berharap akan dibalas dengan uang.
Dan mungkin, di situlah aku mulai memahami Bapak.
Dulu aku menganggap beliau terlalu aneh. Sekarang aku justru menemukan sedikit demi sedikit nilai-nilai itu dalam diriku sendiri. Lucunya, beberapa hal yang dulu tidak kusukai, sekarang justru mulai kupahami. Bahkan mungkin tanpa sadar sedang kujalani.
Aku tidak tahu berapa banyak lagi kenangan tentang Bapak yang masih tersimpan dengan baik di kepalaku. Mungkin ada banyak cerita yang sudah terlupakan. Mungkin ada percakapan-percakapan sederhana yang dulu tidak pernah kusangka akan menjadi sesuatu yang begitu berharga hari ini.
Tapi satu hal yang kupahami sekarang, seseorang ternyata bisa meninggalkan warisan yang jauh lebih panjang dari sekadar harta benda.
Bapak mungkin tidak pernah secara khusus mengajariku tentang integritas, empati, atau bagaimana menjalani profesi dengan hati. Beliau hanya menjalani hidup dengan caranya sendiri. Dan aku, yang dulu terlalu kecil untuk memahami semuanya, baru bisa membaca pelajaran itu bertahun-tahun kemudian.
Maka, sebelum ingatan benar-benar ditelan waktu, aku ingin menuliskannya. Tentang Bapak, tentang Ibu, tentang masa kecil, dan tentang diriku yang perlahan tumbuh menjadi seseorang yang mungkin tidak jauh berbeda dari apa yang pernah Bapak ajarkan.
Barangkali inilah salah satu cara sederhana untuk menjaga kenangan tetap hidup.
Hey Dad look me! Think back and talk to me, Did I grow up according to plan?

0 Comments