4 September 2016.
Facebook hari ini mengingatkanku pada sebuah perjalanan yang ternyata sudah sepuluh tahun berlalu. Di foto itu, aku masih terlihat begitu muda, bersama beberapa teman, bersiap menuju Teluk Wondama.
Tulisanku waktu itu sederhana sekali.
"Siap meluncur ke Teluk Wondama. Meski 12 jam perjalanan harus dilalui lewat jalur laut, tapi semangat masih tetap ada. Bismillah."
Lucu juga kalau melihat kembali tulisan-tulisan lama. Dulu rasanya biasa saja. Hanya sebuah perjalanan menuju tempat tugas. Tapi setelah sepuluh tahun berlalu, foto-foto itu seperti membuka pintu ke sebuah masa yang ternyata punya begitu banyak cerita.
Kampung Yende, Distrik Roon, menjadi tempat aku bertugas selama satu tahun. Tepatnya di SMP Negeri Roon.
Sekolah kami sendiri berada di Enggawi, lumayan jauh dari Kampung Yende. Kalau naik perahu, mungkin hanya sekitar 10–15 menit. Tapi kalau jalan kaki, ceritanya agak berbeda. Kami harus melewati dua kampung, Syabes dan Indai.
Ada dua jalur yang bisa ditempuh. Kalau air laut sedang surut, kami bisa melewati pantai. Tapi kalau air sedang pasang, kami harus mengambil jalur daratan di atas pantai, melewati semacam tebing dan keluar-masuk hutan di beberapa bagian yang tidak berpenduduk.
Aku sampai sekarang tidak tahu persis mau menyebut tempat itu apa. Gunung bukan, bukit juga rasanya bukan. Yang jelas, kalau jalan kaki ke sekolah, kami membutuhkan waktu sekitar satu jam.
Awalnya tentu terasa berat.
Apalagi ada satu culture shock yang cukup besar buatku, tidak ada sinyal dan tidak ada listrik.
Malam hari benar-benar gelap. Jauh lebih gelap daripada jalanan Kota Praya yang walaupun tidak semuanya memiliki lampu jalan, tetapi tetap terasa terang kalau dibandingkan dengan tempat kami tinggal di sana. Hehe.
HP kami akhirnya kembali ke fungsi paling sederhana, untuk foto dan mendengarkan musik.
Tidak ada WhatsApp. Tidak bisa menelepon keluarga. Tidak bisa sekadar mengirim pesan, "Bu, aku baik-baik saja."
Entah bagaimana kabar ibu yang mungkin sedang khawatir di rumah. Hehe.
Selama empat bulan pertama, setiap bulan aku sempat mengirim semacam jurnal kepada keluarga. Isinya tentang rutinitas harian, cuaca, kondisi tempat tinggal, hal-hal seru yang kami lakukan, sampai tempat-tempat indah yang kami kunjungi.
Pokoknya yang ditulis bagian senangnya saja.
Bagian susahnya?
Skip.
Biar orang rumah tidak ikut kepikiran. 😄
Setelah empat bulan, aku tidak lagi rutin mengirimkannya. Bukan karena sudah tidak ada cerita, tetapi mungkin karena kami sudah mulai terbiasa. Sudah mulai menemukan ritme kehidupan di sana. Kalau awalnya banyak hal terasa asing, lama-lama semuanya menjadi rutinitas.
Bangun, mengajar, pulang, bermain, memasak, bercanda, menikmati laut, lalu tidur.
Begitu terus.
Dan karena Distrik Roon adalah wilayah kepulauan, selama tinggal di sana kami benar-benar dikelilingi laut.
Kalau dipikir-pikir sekarang, indah sekali.
Tapi waktu itu, ada satu hal yang justru sempat membuatku stres mengajar.
Aku datang ke sana hanya bermodalkan satu buku penuh latihan soal untuk persiapan Ujian Nasional. Dalam bayanganku, ya tinggal mengajar sesuai buku.
Ternyata kenyataannya tidak begitu.
Banyak murid yang masih terkendala hitungan dasar. Aku sempat nge-freeze di awal.
"Lalu aku harus mengajar apa?"
Ini adalah pengalaman pertamaku mengajar sebagai guru, bukaan sebagai mahasiswa yang sedang praktek. Baru satu atau dua bulan dinyatakan lulus, bahkan belum wisuda. Jika diibaratkan seperti ayam yahg baru saja menetas. Jadi, bisa dibayangkan ya betapa bingungnya aku saat itu. Target yang kubawa dari rumah tiba-tiba terasa tidak sesuai dengan kebutuhan anak-anak di sana.
Sampai kemudian Mb Dyas mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.
"Ajarin aja apa yang bisa kamu ajarin. Sesuaikan sama kebutuhan mereka. Ya siapa tahu justru itu yang bakalan mereka ingat."
Sederhana, tapi benar.
Dari situ aku mulai belajar bahwa mengajar ternyata bukan hanya tentang menyelesaikan materi yang sudah ada di buku. Kadang kita harus berhenti sebentar, melihat siapa yang ada di depan kita, lalu bertanya, "Sebenarnya mereka butuh belajar apa?"
Dan mungkin, justru hal-hal sederhana yang kita ajarkan itulah yang kelak mereka ingat.
Selama di Roon, awalnya kami berempat. Aku, Mb Dyas, Mb Yeti, dan Eno. Beberapa bulan kemudian, Putu Ayu dan Ayik ikut bergabung bersama kami.
Aku, Mb Dyas, dan Mb Yeti mengajar di SMP Negeri Roon. Sementara Eno, Putu Ayu, dan Ayik mengajar di SD YPK Yende.
Karena Eno satu-satunya laki-laki di antara kami, otomatis dia menjadi kepala rumah tangga. Hahaha.
Pembagian tugas juga terbentuk secara alami.
Eno sebagai kepala rumah tangga.
Ayi dan Mb Yeti sebagai ahli pertungkuan, tempat kami memasak nasi.
Mb Dyas dan Putu Ayu sebagai juru dapur.
Lalu aku?
Kang Jagal Ikan. 😂
Urusan membunuh ikan, membedah, mengeluarkan isi perut, membersihkan, sampai menguliti dan membuang sisiknya, serahkan saja kepadaku.
Ya, walaupun sesekali tetap ikut membantu di dapur. Mengupas bawang, mengulek bumbu, atau bagian goreng-menggoreng.
Tapi kalau sudah urusan ikan, aku punya spesialisasi sendiri. Hehe.
Untungnya, soal makanan laut kami tidak pernah terlalu kesulitan. Masyarakat di sana sangat baik kepada kami. Orang tua murid atau anaknya sering datang membawa sayuran atau ikan.
Dan kalau soal ikan, kami bisa dibilang sangat beruntung.
Kami pernah makan ikan yang ukurannya hanya sebesar jari kelingking sampai yang panjangnya hampir sepanjang lengan bagian atas. Pernah dibawakan gurita, bahkan pernah juga dibawakan lobster.
Kalau di kota mungkin kita harus pergi ke restoran seafood untuk mendapatkan semua itu.
Di sana, kadang tinggal menunggu orang tua murid datang membawa ikan.
"Ibu, ini ada ikan."
Alhamdulillah.
Untuk sayuran, pilihannya memang tidak sebanyak di kota. Ada sayur paku, daun kasbi atau daun singkong, dan pepaya yang hampir semua bagiannya bisa diolah. Buah yang masih muda bisa dibuat sayur, daunnya juga bisa dimasak, bunganya pun bisa diolah.
Yang paling sering tentu saja daun kasbi.
Sayuran ini hampir tidak pernah absen dari dapur kami.
Dan di sinilah aku semakin kagum dengan Mb Dyas. Dia pintar sekali memasak. Entah bagaimana caranya, bahan-bahan makanan yang mungkin biasanya hanya dimasak begitu-begitu saja, di tangannya bisa berubah menjadi macam-macam masakan.
Pahlawan perut kami selama di sana. Dia adalah my partner in crime.
Mb Dyas adalah mbakku di sana. Sosok yang bijaksana, perhatian, peduli, baik hati, dan sangat act of service. Orang yang sering kali langsung paham maksud atau arti tatapanku. Meskipun belum sempat diutarakan, dia langsung mengerti. Hal itu kadang buat kami langsung tertawa dalam satu kali pandangn.
Tapi jangan bayangkan hubungan kami selalu manis. Hehe. Terkadang dia juga bisa menjadi teman yang sangat menjengkelkan. Kami bisa saling mengejek, saling bercanda, bahkan rebutan bagian daging ayam yang paling lembut. 😂
Tapi kalau sudah soal selera makanan, kami klop banget. Kalau pergi ke Wasior, kami sudah punya rencana mau makan apa. Coto Makassar, sate ayam, atau bakso full daging dekat pasar. Pokoknya kalau bersama Mb Dyas, urusan makan selalu ada agendanya.
Oh ya, kami sudah bersepakat kalau urusan perut tidak boleh pelit. Bisa dibilang itu menjadi hiburan kami disana. Minimal sebulan sekali kami ke Wasior untuk belanja bahan makanan. Temn-teman yang di sekretariat pun sudah tahu, belanjaan warga Roon ini sudah pasti lebih dari satu karton (dus). Bahan makanan yang kami bawa pulang ke kampung juga bisa banyak sekali.
Sampai anak-anak pernah melihat barang bawaan kami dan berkata,
"Ajeee, ibu guru mo buka kios kah?"
Hahaha.
Jangan lupa juga keripik talas balado kesukaan kami.
Kalau sekarang mengingat semua itu, ternyata kebersamaan kami bukan hanya soal mengajar. Kami benar-benar belajar hidup bersama dan saling mengenal. Eno si kreatif dan selalu bisa diandalkan, Putu Ayu dengan ciri khas mata menyala kalau lagi marah, Ayik si kalem dan soft spoken, dan Mb Yeti si paling penakut di antara kami. Haha ✌🏻
Apalagi karena tidak ada sinyal, hubungan kami dengan sesama rekan dan anak-anak justru terasa semakin dekat.
Anak-anak sering datang menemani kami. Mereka menghibur dengan cerita-cerita dan MOP alias lelucon mereka. Walaupun kadang sebenarnya garing, tetapi karena intonasi dan cara mereka menyampaikannya, tetap saja menjadi lucu.
Kadang bukan leluconnya yang lucu.
Tapi orangnya.
Masyarakat di sana juga sangat menjaga kami.
Guru benar-benar dihargai. Kalau ada acara, guru biasanya dipanggil untuk makan lebih dulu. Sepanjang perjalanan ke sekolah, kami sering disapa,
"Selamat pagi, Ibu."
"Selamat siang, Ibu."
Tidak jarang juga ada yang mengajak mampir sekadar untuk minum teh. Dan tentu saja, teh hampir selalu datang bersama cemilan.
Kadang pulang-pulang kami diberi ikan asin.
Asyik.
Ada stok lauk untuk beberapa hari. Hehe.
Hari-hari kami di sana tidak melulu soal sekolah. Kami juga berusaha membuat diri senyaman mungkin.
Karena tidak ada listrik, malam hari awalnya cukup merepotkan. Tapi Eno memang orang yang kreatif. Bulan kedua atau ketiga, entah bagaimana caranya, dia berhasil meminjam beberapa papan panel surya. Kalau tidak salah sekitar dua sampai empat papan.
Kami tinggal membeli aki.
Dan akhirnya...
rumah kami bisa terang di malam hari.
Senangnya bukan main.
Sekarang mungkin terdengar biasa saja. Tapi waktu itu, bisa menyalakan lampu di rumah sudah terasa seperti mendapatkan fasilitas mewah. Apalagi bebeeapa bulan kemudian kami memutuskan untuk rutin menggunakan jenset karena panel surya ternyata terlalu bergantung dengan cuaca. Disana cuaca sangat cepat berubah.
Untuk mengisi waktu, kami kadang bermain bulu tangkis sore hari.
Aku sendiri paling suka berenang.
Padahal awalnya aku takut agak takut berenang di sana karena dasarnya yang sama sekali tidak terlihat. Bayangan laut waktu itu terasa menyeramkan. Tapi kemudian aku berpikir, kalau setiap hari hidupku akan dekat dengan laut dan alat transportasi utama adalah perahu, aku harus bisa berdamai dengannya.
Akhirnya aku mulai berenang.
Dan setelah bisa menikmatinya, semakin terasa betapa indahnya laut di sana.
Gradasi warnanya luar biasa.
Ada bagian yang biru muda, biru kehijauan, lalu semakin ke tengah berubah menjadi biru yang lebih dalam.
Kami juga pernah pergi ke Auri, salah satu tempat wisata laut di Teluk Wondama.
Kalau sekarang mengingatnya, rasanya ingin kembali.
Anak-anak juga sering memberikan hadiah kecil kepada kami. Ada gelang atau cincin yang dibuat dari kulit penyu, yang mereka sebut teteruga, lalu diasah sampai mengilap. Ada juga yang terbuat dari kayu bahar.
Beberapa masih kusimpan sampai sekarang.
Tidak terlalu sering dipakai, bahkan mungkin sudah tidak pernah dipakai. Tapi rasanya sayang untuk dibuang.
Karena benda-benda kecil itu menyimpan cerita.
Sayangnya, salah satu cincin akhirnya hilang.
Sampai sekarang masih sayang kalau mengingatnya. 😅
Dan karena sudah berada di Papua, tentu saja ada satu hal yang rasanya sayang kalau dilewatkan.
Raja Ampat.
Saat liburan akhir semester, aku dan beberapa teman pergi ke Sorong untuk mengunjungi Raja Ampat. Ya, masa sudah di Papua tidak ke Raja Ampat? Hehe.
Berlibur di Raja Ampat sekaligus menjadi momen bagi kami untuk mengunjungi saudara kami yang bertugas disana. Oh ya, sebenarnya aku berangkat ke Papua tidak sendirian, melainkan berdelapan orang (alumni Pend. Matematika Unram) yang berjuang bersama sejak mulai mengikuti tes di Bali sampai dinyatakan lulus dan mengikuti prakondisi. Kami berpisah karena berbeda penempatan. Mb Ayu, Kak Ojan, Rio dam Jo bertugas di Raja Ampat, sedangkan aku bersama Mb Astri, Kak Andri, dan Kak Rian bertugas di Kabupaten Teluk Wondama. Sayangnya, saat penempatan, kami bertugas di distrik yang berbeda.
Perjalanan itu akhirnya menjadi salah satu bonus dari masa penugasan yang begitu panjang dan penuh cerita.
Sepuluh tahun kemudian, ketika melihat kembali foto-foto itu, aku baru sadar bahwa ternyata banyak sekali hal yang dulu kujalani begitu saja, sekarang justru menjadi sesuatu yang ingin kuingat.
Dulu mungkin aku menganggap perjalanan satu jam ke sekolah sebagai hal yang melelahkan dan tidak ada sinyal terasa seperti keterbatasan.
Sekarang, kalau diingat-ingat justru menjadi momen yang paling membanggakan sebagai bentuk pengabdian.
Dulu aku takut berenang di laut.
Sekarang, laut menjadi salah satu bagian paling indah yang kuingat dari Roon.
Dulu aku datang sebagai guru yang merasa membawa bekal untuk mengajar. Ternyata aku justru pulang membawa begitu banyak pelajaran. Tentang hidup dengan keterbatasan. Tentang menyesuaikan diri. Tentang masyarakat yang begitu hangat. Tentang anak-anak yang bisa membuat hari-hari terasa ringan. Tentang teman-teman seperjalanan yang perlahan menjadi seperti keluarga.
Dan tentu saja, tentang seseorang yang menjadi bagian besar dari cerita itu.
Mb Dyas (Budhi Astu Okta Widhi Atmi)
Satu setengah tahun yang lalu, awal 2025, aku kehilangan my partner in crime. Aku masih mengingat dua hari itu. Aku sempat mengirim chat, tapi tidak pernah ada balasan.
Biasanya, hampir tidak pernah ada chat-ku yang terlewatkan olehnya.Kemudian hari berikutnya, aku mendapatkan berita yang sangat mengejutkan.
Mb Dyas sudah tidak ada.
Ternyata selama dua hari chat-ku tidak dibalas, dia sedang berjuang dengan rasa sakitnya.
Sedih banget.
Walaupun kami sudah lama tidak bertemu, ngobrol dengan Mb Dyas selalu seru. Tidak jarang kami masih saling mengejek lewat pesan singkat. Dia selalu mendengarkan keluh kesahku.
Dan ternyata, kehilangan seseorang yang pernah begitu dekat dalam sebuah perjalanan hidup tetap terasa menyakitkan, meskipun waktu dan jarak sudah memisahkan kami cukup lama.
Aku mungkin lupa mengucapkan terima kasih dengan serius. Karena kalau bicara terlalu serius dengannya, biasanya malah diejek. Hehe. Tapi kali ini aku ingin mengatakannya dengan serius.
Makasih ya, Mb.
Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari perjalanan itu. Terima kasih untuk semua perhatian, makanan, cerita, tawa, pertengkaran kecil, ejekan, dan semua hal sederhana yang dulu mungkin tidak pernah terpikir akan menjadi kenangan yang begitu berarti.
Semoga Tuhan mengampuni segala salah dan khilaf mu, menerima seluruh amal baikmu, melapangkan tempatmu, memberikan cahaya dan ketenangan di sana, serta menempatkan mu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Sepuluh tahun sudah berlalu sejak foto-foto perjalanan itu diambil.
Beberapa orang masih ada. Ada yang sudah pergi. Anak-anak yang dulu kecil mungkin sekarang sudah dewasa. Tempat-tempat yang dulu kami lewati mungkin juga sudah berubah. Tapi cerita itu masih ada.
Dan mungkin itulah salah satu alasan mengapa kita perlu menulis.
Karena kita tidak pernah tahu, sepuluh tahun dari sekarang, tulisan sederhana hari ini bisa menjadi pintu untuk kembali mengunjungi masa yang pernah membuat kita tumbuh.
Hari ini, aku sedang mengunjungi Roon lagi. Bukan dengan perahu. Bukan dengan berjalan kaki melewati pantai dan hutan. Tapi lewat foto-foto lama dan tulisan yang pernah kubuat.
Dan ternyata...
rasanya masih seperti pulang.




































0 Comments