“Ayo jalan-jalan ke Cibubur.”
Pesan yang datang siang itu dan cukup membuatku kaget.
Setelah cukup lama berdiskusi, barulah aku tahu bahwa ternyata ada sebuah tawaran untuk mendampingi adik-adik Penggalang dari Gudep 002 dalam sebuah ajang besar Jambore Nasional, pestanya para Pramuka Penggalang.
Wah, kesempatan emas, nih!
Tapi sebelum buru-buru mengiyakan, ada beberapa hal yang harus kupastikan terlebih dahulu. Kegiatan ini tentu harus legal dan berizin. Dan yang tidak kalah penting, aku harus mendapatkan izin dari kepala sekolah tempatku mengajar.
Setelah semuanya jelas, barulah aku mulai membayangkan bagaimana kegiatan ini akan berjalan.
Awalnya, aku pikir kesibukanku hanya akan berlangsung di bumi perkemahan ketika kegiatan Jambore Nasional dimulai. Datang, mendampingi anak-anak, ikut kegiatan, lalu selesai.
Ternyata...
Aku salah besar. 😄
Ternyata Persiapannya Panjang
Jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, para peserta sudah menjalani berbagai kegiatan Training Center (TC). Dan di sinilah aku mulai mengalami semacam culture shock versi dunia kepramukaan.
Persiapan menuju Jamnas ternyata padat sekali.
Selama liburan sekolah, hampir setiap akhir pekan mereka mengikuti latihan dan kegiatan perkemahan. Sementara aku? Ya, tidak sampai ikut menginap. Paling tidak menemani sampai sekitar pukul 11 malam, atau kadang lebih.
Di titik ini aku mulai sadar, menjadi pendamping kontingen ternyata bukan sekadar datang ke lokasi ketika acara berlangsung. Ada proses panjang yang harus dilalui sebelum benar-benar sampai ke sana. Dan justru di proses panjang inilah cerita menariknya dimulai.
Bernostalgia dengan Masa Kecil
Di tengah kesibukan mengikuti TC, ada satu hal yang paling kusukai, bernostalgia.
Melihat anak-anak berkemah, mengikuti kegiatan di alam terbuka, tidur di tenda, berkegiatan bersama teman-teman, membuatku teringat pada masa-masa ketika aku masih SD.
Dulu, aku juga cukup sering mengikuti kegiatan seperti ini.
Dan tiba-tiba aku teringat kepada almarhum Bapak.
Bapak selalu mendorongku untuk banyak beraktivitas di luar rumah dan aktif dalam berbagai kegiatan. Rasanya dulu aku tidak selalu memahami mengapa beliau begitu ingin aku ikut ini dan itu.
Sekarang, ketika melihat diriku sendiri berada di tengah kegiatan seperti ini, aku baru bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Sometimes, I think I became who he wanted me to see.
Mungkin sebagian dari diriku yang sekarang adalah hasil dari berbagai dorongan kecil yang dulu diberikan Bapak.
Dan lucunya, bertahun-tahun kemudian, aku justru menemukan diriku kembali di dunia yang pernah ia dorong untuk kukenal.
Oke, kembali ke cerita TC.
Di sinilah aku mulai belajar banyak hal. Selama ini aku cukup sering mengisi materi dalam kegiatan bimtek, pelatihan, workshop, atau kegiatan sejenisnya. Jadi, ketika pertama kali diminta ikut terlibat dalam kegiatan TC, aku sempat berpikir, “Ah, mengisi materi? Bisa lah.”
Ternyata...
Tidak sesederhana itu. 😂
Mengisi materi dalam kegiatan pramuka ternyata punya karakter yang berbeda. Aku tidak bisa sekadar berdiri di depan peserta, menyampaikan materi, lalu selesai. Ada dinamika kelompok, suasana lapangan, karakter peserta, energi kegiatan, dan tentu saja budaya kepramukaan yang harus ku pahami.
Materi yang bagus belum tentu menarik kalau cara menyampaikannya tidak sesuai dengan situasi.
Di sinilah aku kembali belajar bahwa menjadi pendidik bukan hanya tentang apa yang kita kuasai, tetapi juga tentang bagaimana kita menyesuaikan diri dengan siapa yang sedang kita dampingi.
Dan mungkin, itulah salah satu kejutan terbesar dari perjalanan menuju Jamnas ini.
Aku awalnya mengira akan pergi ke Cibubur untuk mendampingi anak-anak.
Ternyata, sebelum sampai ke sana, aku sendiri yang banyak belajar.
Tentang pramuka.
Tentang mendampingi anak-anak.
Tentang beradaptasi.
Tentang bekerja dalam tim.
Dan, tanpa kusadari, tentang diriku sendiri.
Perjalanan menuju Cibubur ternyata sudah dimulai jauh sebelum kami benar-benar berangkat.
Dan cerita ini baru permulaan.





0 Comments