Ketika Aku Kembali Memilih Kertas

Beberapa tahun lalu, aku pernah sangat bersemangat membuat jurnal mengajar digital. Bukan sekedar jurnal yang diketik lalu disimpan di Excel. Aku bahkan sempat mencari cara supaya jurnal itu tetap bisa digunakan ketika tidak ada jaringan internet. Data bisa tersimpan terlebih dahulu, kemudian ketika ada sinyal, secara otomatis data terkirim dan terintegrasi dengan Excel. 

Aku bahkan sampai membuat video tutorialnya ketika cara itu berhasil.


Waktu itu aku merasa "wah, ini solusi yang cocok sekali dengan kondisi sekolahku". Maklum saja, mengajar di sekolah dengan jaringan internet yang tidak selalu bisa diandalkan membuatku harus berpikir bagaimana teknologi tetap bisa digunakan dalam kondisi offline. 

Dan memang, jurnal digital punya banyak kelebihan.

Data lebih rapi. Dokumentasi lebih mudah. Foto kegiatan bisa disimpan. Rekap lebih gampang. Kalau ingin mencari kembali data pembelajaran beberapa bulan sebelumnya, tinggal membuka file.


Secara administrasi, jelas sangat membantu.

Tapi setelah beberapa waktu menggunakannya, aku mulai merasakan sesuatu yang agak sulit dijelaskan.

Jurnal digitalku lengkap, tetapi aku merasa seperti sedang jalan di tempat.

Aku bisa menceritakan apa yang sudah terjadi di kelas. Hari ini mengajar materi apa, kegiatan pembelajarannya seperti apa. Ada foto kegiatan, ada hasil pekerjaan murid, ada catatan ketercapaian tujuan pembelajaran. Semuanya ada.

Tapi anehnya, ketika selesai mengisi jurnal, aku tidak selalu merasa sudah benar-benar merefleksikan pembelajaran. Rasanya aku hanya sedang mendokumentasikan apa yang sudah terjadi.

Sekitar dua tahun terakhir, aku justru memilih kembali menggunakan jurnal yang dicetak dan diisi dengan tulisan tangan. Kalau dipikir-pikir, keputusan ini sebenarnya agak lucu. Di saat sekolah sedang ramai-ramainya melakukan digitalisasi, aku yang sebelumnya justru sibuk mencari cara membuat jurnal digital yang tetap mudah digunakan meski terhalang jaringan, malah kembali menggunakan buku dan pulpen. 

Tapi ternyata ada alasan yang sangat sederhana. Menulis tangan membuatku berpikir.

Ketika menulis dengan tangan, aku merasa lebih bebas mencoretkan sesuatu. Kadang, sebelum pembelajaran tiba-tiba idenya muncul, "Bagaimana kalau besok materi ini diajarkan dengan konteks seperti ini?"

Aku tinggal mengambil jurnal dan menggambarnya. 

Kadang setelah pembelajaran selesai, ada sesuatu yang mengganjal, "Tadi anak-anak ternyata masih bingung di bagian ini."  Kemudian aku tuliskan di jurnal.

Kadang muncul juga pertanyaan lain, "Kenapa mereka bisa memahami bagian ini, tetapi kesulitan ketika masuk ke bagian berikutnya?"

Aku tulis juga di jurnal.

Dan tidak jarang, dari coretan-coretan sederhana itu justru muncul ide untuk pembelajaran berikutnya. Di situlah aku mulai menyadari, jurnal mengajar ternyata tidak harus selalu menjadi tempat untuk mencatat apa yang sudah dilakukanIa bisa menjadi tempat untuk memikirkan pembelajaran (merefleksikan).

Aku jadi teringat Finlandia. 
Beberapa tahun lalu, aku ingat ada berita yang cukup ramai diperbincangkan di kalangan guru. Tentang Finlandia. Saat itu, kita di Indonesia sedang begitu bersemangat dengan digitalisasi pendidikan. Perangkat digital mulai masuk ke sekolah. Guru mulai belajar berbagai platform. Kita sedang berusaha beradaptasi dengan berbagai bentuk pembelajaran digital.

Lalu muncul berita bahwa beberapa sekolah di Finlandia mulai kembali memperbanyak penggunaan buku dan bahan pembelajaran berbasis kertas.

Aku masih ingat bagaimana berita itu menjadi bahan perdebatan. Ada yang bertanya, "Kok bisa? Bukankah Finlandia sudah lebih dulu maju dalam digitalisasi pendidikan?"

Kita baru mulai berlari menuju digital, sementara negara yang dianggap sudah lebih dulu sampai justru terlihat seperti sedang berbalik arah.

Tapi setelah membaca lebih jauh, ternyata ceritanya tidak sesederhana “Finlandia meninggalkan teknologi dan kembali ke buku.”

Misalnya di Riihimäki, sekolah menengah pertama memang memutuskan meningkatkan kembali penggunaan buku, buku latihan, dan bahan kertas setelah mengevaluasi pengalaman penggunaan materi digital. Keputusan itu antara lain mempertimbangkan masukan guru dan orang tua serta persoalan konsentrasi dan kesejahteraan siswa. Namun mereka tidak benar-benar meninggalkan teknologi. Teknologi tetap digunakan ketika memang mendukung pembelajaran (sumber disini). 

Jadi, mungkin persoalannya bukan "digital atau buku?", melainkan untuk tujuan tertentu, alat mana yang paling membantu proses belajar?

Pertanyaan itu ternyata sangat dekat dengan pengalamanku sendiri.

Aku tetap menyukai teknologi. Aku masih menggunakan berbagai media digital dalam pembelajaran. Aku masih membuat media interaktif, masih menggunakan perangkat dan aplikasi ketika memang dibutuhkan.

Jadi, kembali menggunakan jurnal kertas bukan berarti aku tiba-tiba menjadi anti-digital. Justru sebaliknya. Setelah mencoba keduanya, aku semakin sadar bahwa teknologi seharusnya digunakan karena memang memberi nilai tambah, bukan hanya karena kita bisa menggunakannya.

Kalau tujuannya sinkronisasi data jurnal, digital unggul.

Kalau tujuannya mencari pola dari data, Excel unggul.

Kalau tujuannya dokumentasi dan arsip, digital unggul.

Tetapi kalau tujuannya "Aku sedang punya ide pembelajaran dan ingin mencoret-coret sambil berpikir." Kertas terasa jauh lebih natural. Atau kalau "Aku baru selesai mengajar dan ada sesuatu yang ingin ku pikirkan sebelum lupa". Pulpen dan jurnal sering kali terasa lebih cepat daripada membuka perangkat, mencari file, masuk aplikasi, lalu menuliskan idenya. 

Aku akhirnya sadar bahwa digital dan kertas tidak harus saling menggantikan. Keduanya bisa punya tempat masing-masing.

Oh iya, ada satu hal lagi yang membuat jurnal ini menjadi semakin menarik bagiku.

Ketika Pembelajaran Mendalam mulai banyak digaungkan pada tahun 2025, aku tiba-tiba teringat sesuatu yang pernah kupelajari ketika mengikuti Pendidikan Profesi Guru pada 2018. Waktu itu aku belajar tentang Pendidikan Matematika Realistik (PMR/RME). Salah satu konsep yang cukup melekat dalam ingatanku adalah Iceberg.


Dulu aku mengenalnya sebagai gambaran bagaimana murid membangun pemahaman matematika. Murid tidak langsung dilempar ke rumus atau matematika formal. Mereka bisa berangkat dari konteks yang dekat dengan kehidupan mereka, kemudian menggunakan strategi atau representasi informal, bergerak menuju model matematika, sampai akhirnya menemukan atau memahami konsep matematika formal.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Pembelajaran Mendalam mulai digaungkan, aku seperti menemukan kembali konsep yang pernah kupelajari itu.

Aku mulai berpikir, jangan-jangan Iceberg ini tidak hanya bisa digunakan untuk memikirkan bagaimana murid belajar matematika. Aku juga bisa menggunakannya untuk memikirkan bagaimana aku akan mengajar.

Akhirnya aku mulai mencobanya di jurnal, Iceberg sebagai coretan berpikir.

Misalnya aku punya ide untuk mengajarkan suatu konsep matematika. Aku tidak selalu harus langsung membuka dokumen RPP dan menuliskan semuanya secara lengkap. Kadang aku cukup menggambar sebuah Iceberg. 

Di bagian bawah, aku tuliskan konteks yang mungkin digunakan.

Kemudian aku pikirkan

  • Murid akan melakukan apa?
  • Model apa yang mungkin muncul?
  • Bagaimana mereka bergerak dari pengalaman atau strategi informal menuju model matematika?
  • Konsep formal apa yang ingin aku tuju?

Kadang hasilnya hanya berupa gambar. Kadang tabel. Kadang panah ke sana kemari.

Kadang tulisannya tidak rapi. Kadang bahkan dicoret dan diganti.

Tapi justru di situlah aku merasa bebas. Aku tidak sedang membuat dokumen yang harus terlihat sempurna. Aku sedang berpikir.

Dan ternyata sebuah Iceberg sederhana bisa menjadi semacam perencanaan pembelajaran dalam bentuk yang paling sederhana.

Aku punya ide hari ini, aku coretkan.

Besok aku coba di kelas.

Yang lebih menarik, aku tidak selalu membuat iceberg sebelum mengajar. Kadang justru setelah pembelajaran selesai. Aku bisa menggambarkan kembali apa yang terjadi di kelas, bagian mana yang berhasil, bagian mana yang membuat murid bingung. Kemudian, representasi apa yang membantu mereka, miskonsepsi apa yang muncul. Lalu aku juga bisa menambahkan, kalau besok mengajar dengan cara/metode ini lagi, bagian ini harus diperbaiki. 

Dengan begitu, iceberg di jurnal bisa menjadi rencana, juga bisa menjadi refleksi. Bahkan bisa menjadi keduanya. 

Hari ini aku menggambar Iceberg sebagai ide. Besok aku mencobanya. Setelah mengajar, aku tambahkan catatan. Tahun depan, ketika materi yang sama kembali diajarkan, aku bisa membuka jurnal itu lagi.Aku tidak perlu mulai dari nol. Aku bisa melihat:

Oh, tahun lalu anak-anak ternyata kesulitan di bagian ini.

Konteks yang ini ternyata lebih mudah dipahami.

Bagian ini perlu diberi representasi yang berbeda.

Lalu aku bisa memperbaikinya.


Barangkali ini yang paling berubah dari cara pandangku terhadap jurnal mengajar. Dulu aku menganggap jurnal sebagai tempat untuk mencatat hari ini aku sudah mengajar apa? Sekarang, aku lebih suka melihatnya sebagai tempat untuk bertanya, apa yang ku pelajari dari pembelajaran hari ini? lalu apa yang akan ku lakukan berikutnya? Bahkan, kalau tahun depan aku mengajarkan materi ini lagi, apa yang akan ku ubah?

Jurnal akhirnya tidak hanya menyimpan masa lalu. Ia juga membantu membentuk pembelajaran di masa depan. Dan mungkin inilah salah satu alasan mengapa aku begitu nyaman dengan tulisan tangan. Coretan yang hari ini terlihat sederhana, bisa menjadi ide pembelajaran beberapa bulan atau bahkan satu tahun kemudian. Bukan hanya menyimpan apa yang pernah dilakukan, tetapi juga menyimpan apa yang pernah kupikirkan sebagai guru.

Dari pengalaman ini, aku mulai melihat jurnal mengajar ini bukan lagi sekedar tempat menyimpan administrasi. Bukan sekedar bukti bahwa pembelajaran sudah dilaksanakan.

Lalu, apakah aku menyesal pernah membuat jurna digital? Tentu tidak. Justru aku bersyukur pernah membuatnya. 

Kalau aku tidak pernah mencoba jurnal digital, mungkin aku tidak akan sampai pada kesadaran bahwa kebutuhan dokumentasi dan kebutuhan refleksi ternyata tidak selalu sama.

Digital sangat membantuku mendokumentasikan. Tetapi tulisan tangan memberiku ruang untuk berpikir. Dan sekarang aku tidak merasa harus memilih salah satunya untuk segala hal.

Aku justru belajar bahwa ada hal yang lebih baik didigitalisasi. Ada hal yang lebih baik dituliskan.

Mungkin ini pula yang sebenarnya sedang dipelajari oleh banyak sistem pendidikan ketika mulai mengevaluasi kembali penggunaan teknologi.

Bukan kembali ke masa lalu, tetapi belajar memilih dengan lebih bijak.

Karena tujuan akhirnya bukan menjadi sekolah yang paling digital.

Bukan pula menjadi sekolah yang paling banyak menggunakan buku.

Tujuannya adalah menemukan apa yang paling membantu manusia untuk belajar. Dan untukku, setidaknya untuk sebuah jurnal mengajar matematika, kadang-kadang jawabannya sangat sederhana, selembar kertas, sebuah pensil, dan sebuah Iceberg yang belum selesai.


Btw, pengalaman ini ditulis oleh guru yang tidak menggunakan tab. Kalau aku menggunakan tab, mungkin ceritanya akan berbeda lagi. 😁


Post a Comment

0 Comments