Hari-Hari di Jamnas XII 2026

Tulisan ini melanjutkan tulisan sebelumnya, Ayo Jalan-Jalan ke Cibubur, mungkin tidak akan se-detail yang pembaca pikirkan saat membaca judulnya. Tapi cukup mewakili perasaan, kegiatan, dan pengalaman yang kami lalui selama dua pekan kemarin. 

Hari-hari di Jamnas ternyata punya cerita sendiri. Salah satu hal yang paling terasa adalah berjalan kaki. Kemana-mana kami berjalan. Dari tenda menuju lokasi kegiatan, dari satu tempat ke tempat lainnya, bahkan untuk mencari sesuatu pun harus di tempuh dengan berjalan kaki. Awalnya terasa melelahkan karena belum terbiasa. Tapi lama-kelamaan, walaupun tetap melelahkan (hehe), berjalan kaki justru menjadi kebiasaan di Jamnas.

Hmmm, sebelum lanjut tulisannya, ada baiknya memperkenalkan peserta dan bindamping putri dari Kontingen Cabang Lombok Tengah yang merupakan pemeran utama dalam tulisanku ini.

Kami datang sebagai satu rombongan yang terdiri dari 4 regu, Aster-Seruni-Tulip-Lily, yang masing-masing beranggotakan 8 orang. 


Ada Esta, Adel, Najma, Zivana, Nadin, Naya, Regita, dan Rifdha di Regu Seruni; Cahaya, Alya, Inaya, Fadelia, Gita, Desy, Dirlia, dan Tata di Regu Aster; Aura, Mita, Nova, Najwa, Rifdha, Gigan, Deanda, dan Bainis di Regu Tulip; serta Raju, Syafira, Rodiana, Nina Malik, Annisa, Ica, Maulia, dan Serly di Regu Lily.
Diantara mereka ada kami berlima yang bertugas sebagai bindamping, Kak Atik, Kak Dewi, Kak Wiwit, Kak Nink, dan aku. 


Sejujurnya, mendampingi adik-adik ini adalah pengalaman baru bagiku. Di awal kedatangan, kami sama-sama belajar beradaptasi dengan suasana Buperta Cibubur yang begitu ramai dan padat, cuacanya cukup panas juga. Kami (para bindamping) harus selalu memastikan mereka tidak tertinggal, mengetahui jadwal kegiatan, membawa perlengkapan, dan tetap bersama regu. Rasanya seperti memiliki tanggung jawab tambahan yang membuatku harus selalu siap.

Ada rutinitas yang kemudian menjadi kebiasaan, membangunkan mereka mulai pukul 03.30. Setelah itu mengingatkan jadwal, memastikan mereka bersiap, membagi tugas dan jadwal kurve, lalu bersiap mengikuti kegiatan hari itu. Kadang kami harus mengingatkan hal yang sama berkali-kali. 😄 Tapi justru dari rutinitas sederhana itulah kami mulai menikmati peran kami sebagai pendamping.

Salah satu momen yang membuatku bangga adalah ketika melihat mereka menggunakan seragam pramuka lengkap dan berdiri bersama ribuan peserta lainnya dalam upacara pembukaan. Kalian beruntung girls.

Setelah acara pembukaan, mereka bersiap dengan jadwal kegiatannya masing-masing. 

Selama beberapa hari berkegiatan, ada kegiatan rotasi, mereka berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, mencoba pengalaman yang berbeda, bertemu dengan peserta lain, dan belajar mengikuti aturan serta tantangan di setiap pos. Rasanya senang melihat mereka benar-benar terlibat.
Ada yang masih malu-malu, ada yang begitu antusias, ada yang mulai berani mencoba, dan tentunya mereka menemukan pengalaman baru yang mungkin tidak akan mereka dapatkan di sekolah.



























Di tengah padatnya kegiatan, tentu ada hal-hal yang paling mereka tunggu, dan sepertinya tidak ada yang mengalahkan semangat ketika mendengar tentang Pasar Jambo. 😄 Entah sudah selelah apa mereka setelah mengikuti kegiatan seharian, ketika waktunya ke Pasar Jambo, semangat mereka seperti muncul kembali. Apalagi ditambah dengan menonton konser sehabis dari Pasar Jambo, menjadi-jadi lah mereka ini hehe.




Ah iya, kalau bicara soal makanan. Sejujurnya, baru kali ini aku merasakan berkemah dengan menu makanan yang enak-enak dan terjamin. Untuk itu, aku ingin menyampaikan terima kasih kepada Kak Dewi, yang sudah menjadi menteri dapur kami selama kegiatan Jamnas kemarin.
Selain itu, momen-momen sederhana di tempat tinggal kami akan menjadi salah satu kenangan yang paling melekat. Berkumpul di ruang tengah, bercanda, saling bercerita tentang kegiatan hari itu, tertawa karena hal-hal kecil, bahkan sekadar duduk bersama setelah seharian berjalan dan beraktivitas.
Di tengah rasa lelah yang luar biasa, ruang tengah menjadi tempat kami mengembalikan energi dengan cara yang paling sederhana, tertawa bersama. Oh iya, juga sebagai tempat menikmati semangka, yang selalu menjadi favorit mereka.
Setiap kali kembali ke tenda setelah seharian beraktivitas, semangka seperti menjadi hadiah kecil yang selalu dinanti. Kami menikmatinya bersama, di tengah rasa lelah dan cerita tentang kegiatan hari itu.
Sekarang, setiap kali melihat semangka, mungkin aku akan selalu teringat pada Jamnas. Aneh memang, bagaimana sebuah benda yang begitu sederhana bisa membawa kembali begitu banyak kenangan. Mungkin karena di balik semangka itu ada wajah-wajah adik-adik, suara tawa dan canda mereka, rasa lelah setelah berjalan seharian, dan kebersamaan yang saat itu terasa biasa saja, tetapi ternyata begitu berharga.

Mungkin karena terlalu banyak waktu yang kami habiskan bersama, tanpa sadar adik-adik ini mulai memiliki tempat tersendiri di hati kami.
Awalnya kami hanya berpikir bagaimana mendampingi mereka selama dua pekan. Memastikan mereka bangun, tidak terlambat, tidak tertinggal, tahu jadwal, membawa perlengkapan, makan dengan baik, dan kembali ke tenda dengan selamat. Hal-hal yang awalnya terasa seperti tanggung jawab, lama-kelamaan berubah menjadi bentuk perhatian yang datang dengan sendirinya.
Kami mulai hafal kebiasaan mereka, tahu siapa yang harus dibangunkan lebih dulu, siapa yang perlu diingatkan berkali-kali, siapa yang paling bersemangat kalau diajak ke Pasar Jambo, dan siapa yang paling ramai ketika sudah berkumpul di ruang tengah.
Mungkin begitulah rasa sayang tumbuh. Bukan karena sebuah momen besar, tetapi dari rutinitas-rutinitas kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Kami mungkin datang sebagai bindamping dan mereka sebagai adik-adik yang harus kami dampingi. Tetapi setelah dua pekan bersama, rasanya mereka bukan lagi sekadar peserta yang menjadi tanggung jawab kami. Mereka sudah menjadi adik-adik yang benar-benar kami sayangi.
Dan mungkin, itulah yang membuat momen perpisahan jadi lebih sedih (apalagi karena kami ditinggal saat upacara penutupan 😭😭).

Ada satu cerita lain yang ternyata membawa perjalanan ini terasa semakin istimewa. Jauh sebelum berangkat ke Cibubur, mataku sudah sibuk mencari lokasi kontingen dari Teluk Wondama. Entah kenapa, sejak awal aku begitu ingin menemukan mereka. Mungkin karena ada bagian dari diriku yang ingin kembali menyapa tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku.

Berhari-hari mencari tetap belum ketemu, sampai akhirnya tanpa sengaja ketika sedang menemani adik-adik berkegiatan, aku melihat identitas dari kaos yang mereka kenakan "Teluk Wondama". Ah, senang sekali rasanya. 
Bertemu orang-orang dari Teluk Wondama seperti membuka kembali lembaran cerita sepuluh tahun lalu. Di tempat itulah aku mengawali perjalanan sebagai seorang guru. Banyak hal yang sudah berubah sejak saat itu. Aku pun sudah berjalan cukup jauh dari sana. 
Memang tidak ada peserta dari SMP Negeri Roon, tempatku mengajar dulu. Tapi, ternyata Jamnas tetap punya cara sendiri untuk menghadirkan sedikit rasa pulang itu. Ada seorang anak yang berkata, "Ada satu kak, de pu mama dari Yende, marganya Ayamiseba"


Sesederhana itu. Kalimat itu cukup untuk membuatku tersenyum lebar. Rasanya seperti menemukan potongan kecil dari masa lalu di tengah perjalanan yang sama sekali baru. Mungkin memang begitu cara kenangan bekerja. Ia tidak selalu datang melalui tempat yang sama atau orang yang kita kenal. Kadang ia muncul melalui sebuah nama, sebuah percakapan singkat, atau seseorang hang mengatakan bahwa keluarganya berasal dari tempat yang pernah kita tinggali. 

Dan akhirnya, setelah dua pekan mengikuti kegiatan Jamnas XII, aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang mendampingi adik-adik mengikuti kegiatan. Ada banyak hal yang ku bawa pulang. Tentang kaki yang harus terbiasa berjalan, tentang bangun pukul 03.30 dan berkali-kali mengingatkan jadwal. Tentang pakaian yang dikenakan, riuhnya kegiatan, dan semangat menuju Pasar Jambo. Tentang melihat adik-adik yang perlahan belajar mandiri. Tentang bertemu kembali dengan jejak masa lalu yang ternyata masih terasa hangat dan tentang diriku sendiri yang mungkin tanpa sadar juga belajar sesuatu dari perjalanan ini.

Aku berangkat ke Cibubur dengan niat mendampingi adik-adik, tapi pulang dengan lebih banyak cerita daripada yang pernah ku bayangkan.
Mungkin sekarang hitungannya bukan lagi satu sampai delapan, atau satu sampai tiga puluh dua. Tapi setidaknya kami pernah berada pada barisan yang sama, pernah berjalan di jalan yang sama, mengikuti kegiatan yang sama, tertawa dan lelah di tempat yang sama, dan menjadi bagian dari cerita yang sama.
Dan mungkin, beberapa tahun dari sekarang, mereka sudah lupa detail-detail kecil tentang Jamnas. Bisa jadi mereka tidak lagi ingat siapa yang membangunkan pukul 03.30, siapa yang paling sering mengingatkan jadwal, atau siapa yang paling heboh ketika diajak ke Pasar Jambo.
Tapi aku berharap mereka tetap mengingat perjalanan ini sebagai bagian dari pengalaman dan pelajaran yang mendewasakan mereka, melatih kemandirian mereka.

Untukku sendiri, setiap kali melihat semangka atau mendengar nama Cibubur, mungkin aku akan kembali pada dua pekan itu.
Pada langkah-langkah panjang yang melelahkan, pada suara tawa di ruang tengah, pada wajah-wajah adik-adik dengan seragam lengkap, pada pertemuan yang tidak sengaja, pada masa lalu yang tiba-tiba menyapa, dan pada sebuah perjalanan yang awalnya hanya ku anggap sebagai "Ayo jalan-jalan ke Cibubur", tetapi ternyata meninggalkan jauh lebih banyak hal untuk kubawa pulang.
Terima kasih, Jamnas.
Untuk lelah yang menyenangkan, pertemuan yang tidak disangka, dan kenangan yang mungkin akan tinggal jauh lebih lama daripada dua pekan yang kami habiskan di sana.
Karena pada akhirnya, mungkin bukan tentang berapa banyak langkah yang sudah kami tempuh, atau berapa banyak kegiatan yang sudah kami lewati, yang penting, kami pernah berada pada barisan yang sama.







Haha ini bonus



Terakhir, yang paling spesial. Terimakasih Kak Atik dan Kak Muhadis yang sudah memberikan kepercayaan sehingga aku bisa ikut manjadi bagian dalam perjalanan ini. 







Post a Comment

0 Comments