Menjadi Anomali di Kamar 217

 Baru aja rebahan di kasur rumah setelah pulang dari pelatihan. Badan rontok kurang tidur siang (wkwkwk), tapi isi kepala rasanya lumayan penuh. Bukan cuma penuh sama materi pelatihannya, tapi juga penuh sama memori seru dan kocak selama beberapa hari kemarin. Salah satunya pengalaman jadi penghuni kamar 217. 

Jadi, gini ceritanya. Pas registrasi awal, dengan sok ide dan jiwa petualang yang tinggi, aku bilang ke panitia, "Saya bisa sekamar dengan siapa aja, mbak." Niatnya sih emang pengen cari teman baru, keluar dari zona nyaman, dan bertemu karakter yang berbeda-beda. Ternyata, semesta memang punya selera humor yang bagus. 

Kami sekamar berempat, di kamar 217. Begitu kenalan, jreng jreng ... Tiga teman sekamarku ternyata berasal dari kabupaten yang sama, mengajar di jenjang kelas yang sama, dan semuanya adalah guru SD. Sementara aku? Guru SMP sendiri, dari kabupaten yang berbeda pula. Resmi sudah, aku jadi "anomali" di kamar itu ðŸ˜‚😂😂

Penghuni kamar 217

Sebagai orang yang aslinya segan ketemu orang baru dan paling gak jago basa basi, awalnya mikir bakalan canggung sekali. Apalagi guru SD itu energinya luar biasa. Mereka ekspresif, heboh, dan kalau cerita pasti seru, kontras banget sama aku yang tipenya agak kalem dan minim ekpresi wkwkwk 😜.

Melihat mereka yang langsung akrab dan heboh, tiba-tiba di kepala berputar lirik lagu Lenka. "I'm just a little girl lost in the moment, I'm so scared but I don't show it ..." (Eeiits, hidupku ga kayak di pilem-pilem kok, haha. Jangan dipercaya bagian scared-nya ya, karena aku ga ketakutan, cuma bingung aja mau nimbrung dari mana.)

Tapi ternyata, jadi anomali itu seru banget lho!

Kamar kami berubah jadi tempat yang super ramai (btw ini cukup ampuh menghilangkan penat setelah keluar kelas). Mereka cerita macam-macam, dari urusan dinas sampai obrolan khas guru SD yang ga ada habisnya. Aku? Penonton dan pendengar setia yang menikmati cerita mereka. Sesekali nimbrung kalo relate. Aku emang senang melihat, mendengar, dan memperhatikan kehebohan orang lain. 

Melihat keragaman karakter orang itu seru lho, bukan buat menilai atau membanding-bandingkan ya (please, sudah jaman apa sih ini? Jangan suka membandingkan, no .. no..), tapi murni karena menarik aja melihat cara manusia berinteraksi dengan keunikannya masing-masing.

Pada akhirnya, pelatihan kami ini sukses memberikan pengalaman yang menarik tentang banyak hal. Bukan cuma soal materi di kelas, tapi juga pengalaman jadi "anomali" yang seru. Terima kasih ya mbak-mbak.

Kapok? Nggak dong. Kalau ada pelatihan lagi, kayaknya aku bakal tetap pilih opsi "sekamar dengan siapa saja". Kira-kira, besok bakal dapat kejuatan karakter yang seperti apa lagi ya? 


Post a Comment

0 Comments