Biaya Menjadi Dewasa

Dulu, waktu kecil, aku membayangkan menjadi dewasa itu sangat menyenangkan. Jadwal tidur yang bebas aturan, kaki yang siap melenggang kesana kemari tanpa terbentur ijin orang tua, dan dompet yang seolah selalu terisi  untuk membeli semua kebahagiaan yang ku inginkan. Aku melihat orang dewasa sebagai penguasa atas hidupnya sendiri.

gitudehkirakira

Namun, hari ini, saat aku duduk di sudut sebuah bengkel motor dengan sebotol milk greentea di tangan, aku menyadari bahwa kebebasan itu datang dengan label harga yang tidak murah. Menjadi dewasa ternyata bukan tentang melakukan apapun yang kita mau, melainkan tentang kemampuan untuk tetap berdiri tegak saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana. Kebebasan melenggang yang dulu pernah ku impikan, kini sering kali terbentur oleh situasi yang menuntut kaki ini untuk istirahat sejenak. Jadwal tidur yang bebas itu juga ternyata seringkali ditukar dengan jam-jam tenang di tengah malam, bukan untuk bermain, melainkan untuk merapikan isi kepala dari hiruk pikuk kejadian-kejadian tak terduga.

Begitu juga dengan kejadian hari ini. Saat aku berusaha menahan diri dari godaan barang yang sudah lama menjadi penghuni keranjang di salah satu marketplace favoritku, ternyata justru harus membayar lebih untuk hal yang tidak terlihat wujud kesenangannya. Namun aku belajar satu hal, itu adalah biaya ketenangan. Aku merelakan biaya servis hari ini agar perjalanan jauh ku nanti tidak berhenti di tengah jalan. Aku sedang membeli keamanan untuk diri sendiri. Ini adalah bentuk tertinggi dari kasih sayang pada diri sendiri yang jarang disadari.

Di tengah keriuhan suara mesin dan bau oli ini, aku tersadar bahwa menjadi dewasa juga berarti tahu kapan harus menekan rem. Bukan hanya rem pada kendaraan yang membawa kita berpindah tempat, tapi rem pada ego yang sering kali menuntut pemuasan instan. Ada saatnya ambisi ini melaju terlalu kencang, ingin cepat sampai tanpa peduli apakah mesin di dalam sanggup menanggung bebannya. Padahal, perjalanan jauh seringkali membutuhkan persiapan yang sunyi. Menekan rem bukan berarti berhenti atau menyerah, ia adalah tindakan sadar untuk memeriksa kembali apa yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekedar apa yang diinginkan.

Saat situasi menuntut untuk diam, jangan paksakan langkah kita. Barangkali ada kekuatan besar dalam sebuah jeda. Menunda kesenangan pribadi demi keamanan jangka panjang adalah bentuk negosiasi paling jujur yang pernah ku lakukan dengan diri sendiri. Ternyata, memegang kendali dalam hidup bukan berarti harus memacu gas sedalam-dalamnya, melainkan tahu kapan harus melambat agar tidak kehilangan arah di persimpangan yang tak terduga.

Pada akhirnya, menjadi dewasa adalah tentang bagaimana kita menikmati milk greentea di depan Indomaret sambil menunggu motor dibongkar. Ini tentang mengubah rasa sesak menjadi paragraf-paragraf yang bermakna.

​Mungkin, keajaiban menjadi dewasa bukan terletak pada kemudahan hidupnya, tapi pada ketangguhan kita dalam menghadapinya. Kita tidak lagi butuh izin orang lain untuk melangkah, tapi kita butuh izin dari diri sendiri untuk tetap tenang di tengah badai pengeluaran yang tak terduga.

Biarlah dompetku sedikit lebih ringan hari ini, asalkan langkahku menuju babak baru nanti tak lagi tertahan oleh mesin yang ragu-ragu, hehe. gitudehkirakira 


Post a Comment

0 Comments