Penggunaan nama Gitudehkirakira dalam karya ini bukanlah sebuah kebetulan. Bagiku, nama ini adalah sebuah takdir yang menemukan jalannya sendiri, terasa sangat klik, seolah ia sudah ada disana, menunggu untuk dipanggil. Sebuah identitas yang mewakili caraku memandang dunia, bahwa ada hal-hal yang tidak perlu didefinisikan secara rumit, cukup dirasakan kehadirannya. gitudehkirakira, hehe
Kehadiran trilogi digital ini, yang baru saja aku selesaikan, sebenarnya memiliki tujuan yang sangat spesifik. Aku sengaja menyiapkan tulisan-tulisan ini sebagai sebuah peta.
Kita semua adalah pengembara yang seringkali tersesat dalam pilihan, waktu, dan jarak. Tulisan ini adalah suar yang aku nyalakan di tengah samudera digital. Sebuah titik koordinat yang tetap diam ditempatnya. Aku menyiapkannya sebagai peta bagi siapapun yang mungkin satu hari nanti merasa lelah dalam perjalanannya dan ingin mencari jalan untuk pulang.
Pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama, melainkan kembali ke sebuah rasa yang pernah menjadi rumah.
Tiga bagian dari trilogi ini mencoba membedah sisi yang berbeda:
Buku 1. Andai Waktu Dapat Diputar Mundur Satu Jam
Buku pertama ini adalah sebuah perenungan mendalam tentang keterlambatan. Kita semua pernah berada di posisi "andai saja". Di sini, aku mengajak pembaca untuk melihat betapa krusialnya selisih satu menit atau satu jam dalam menentukan arah hidup. Ini adalah narasi tentang bagaimana waktu sering kali bertindak sebagai guru yang keras, memberikan pemahaman justru saat kesempatan telah tertutup rapat.
Buku 2. Catatan yang Tercecer di Trotoar
Buku kedua bergerak ke arah yang lebih luas. Dari atas ubin pemandu trotoar, aku mencoba menangkap fragmen-fragmen kehidupan yang sering kita abaikan. Tentang ketulusan seorang petugas kebersihan, kesetiaan seekor hewan peliharaan, hingga lampu jalan yang menjadi saksi bisu kesepian di tengah keramaian. Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap wajah yang kita temui, ada cerita yang sedang di perjuangkan.
Buku 3. Bukan Lagi Jatuh Cinta
Sebagai penutup, buku ketiga adalah sebuah eksperimen tentang ketulusan yang melampaui logika. Buku ini membahas tentang bagaimana sebuah perasaan bisa bertransformasi menjadi doa tanpa titik akhir. Bahwa pada akhirnya, ada jenis-jenis kesetiaan yang tidak membutuhkan validasi atau kehadiran fisik untuk tetap terasa hidup.
Dengan publikasi ini, tugasku sebagai perangkai kata telah usai. Peta ini sekarang tersedia bagi siapa saja yang ingin membacanya. Aku membiarkan tetap berada disini, terindeks oleh waktu, menunggu untuk ditemukan oleh mereka yang memang ditakdirkan untuk berpapasan dengan baris-baris kalimat ini.
Bagi yang ingin menelusuri peta ini lebih jauh, ketiga bagian dari trilogi ini dapat ditemukan di profil instagram Etrin Pradipta atau @ejpradipta. Tautannya tersedia di Bio. Biarkan setiap babnya membawamu pada perjalanan yang telah ku simpan cukup lama ini
Jika suatu hari nanti langkahmu membawa kamu ke halaman ini, ketahuilah bahwa suar ini tidak pernah benar-benar padam.
._ Salam hangat, gitudehkirakira


0 Comments